Kulo nuwun…
Akhirnya, jalan terbaik adalah memakai jasa “outsourcing lokal” istilah kerennya, jadi mulai dari tenaga pengangkut sampai dengan sewa lahannya dari penduduk kampong sekitar komplek. Sehinga tinggal menyediakan alat angkut sampah / kereta sampah. Dan tentu saja……harus menyiapkan honornya tiap bulan serta mesti menyiapkan dana untuk maintenance.
Dan alternatif terakhir ini yang kita (RT.09) pakai sejak memekarkan diri bulan Des 2006 sampai Juni 2007. Memakai jasa outsourcing lokal.
Tetapi sejak awal Juli lalu, pengelolaan sampah di RT. 09 dialihkan ke outsourcing lainnya, yaitu kerjsasama dengan Dinas Kebersihan Kota Tangerang sesuai dengan anjuran dari Ketua RW, sebab mungkin salah satu alasannya adalah untuk menjaga ekosistem tanah dan lingkungan sekitar lebih nyaman untuk dimasa yang akan datang. Itu jika dilihat dari sisi lingkungan.Yup oke juga,.....tapi jika dilihat dari sisi ”kemanusiaan”, kadang rasa kasihan alias trenyuh terlintas dibenak, sebab pengambilan sampah ini bisa menjadi salah satu ”pedaringan” untuk tetap eksis menjalankan hidup. Meski tidak besar tetapi masih tetap ada income yang diharapkan bagi mereka. Dan rasa ”kehilangan pekerjaan” ini secara terus terang diucapkan pada Seksi Kebersihan (Pak Mardi) saat ”PHK” dilaksanakan.
Tetapi harus gimana lagi? Sebab mau tidak mau dan suatu saat cepat atau lambat pengambilan sampah tetap akan dikelola oleh Dinas Kebersihan Kota.
Kembali ke laptop.........!
Jadwal pengambilan sampah seminggu 2 kali yaitu hari Senin dan Kamis dengan biaya per-rumah adalah Rp. 7.500,-/bulan. Dan pengangkutan menggunakan truk khusus sampah. Mantap !
Pada awal beroperasinya, memang masih ada beberapa rumah yang terlewat diambil oleh petugas padahal petugasnya sudah diberitahu batas-batasnya. Akhirnya mereka komplain ke Seksi Kebersihan yang selanjutnya oleh beliau di sampaikan ke petugas.
Kita berharap untuk selanjutnya lancar – lancar saja.
Memang...yang namanya komplek perumahan......persoalannya juga semakin ”komplek”.
Capeeeekk..dech....
pusing..pusing..,kapan yach iurannya turun he..he..he
BalasHapusWalah..walah...kalo mo turun...itu tuch..SUSU NENEK....udah turun dari dulu..he..he.. :)
BalasHapuswah kalo itu aku no comment, ntar didamprat kakek.
BalasHapusKakek yg mana nih? Kakek ganjen, kakek warung atau kakek yg laen?
BalasHapusbagaimana dengan pemilahan sampah?
BalasHapusapakah di sana ada inisiasinya?
adakah upaya lain selain menggunakan metode konvensional: kumpul-angkut-buang ?
karena, 'kan, klo sekedar membuang sampah tuh, sebenarnya "memindahkan sampah" saja, as long as not in my backyard :-/
hehe...saya cuma individu yg sok concern dg persampahan, tapi blm ada tindakan konkret nya :D
Hoi...warga RT. 09 ayo dong jawab komen komen Mbak dini ak ini?w
BalasHapus